Monster (Part 1)

Cast:

Kwon Jiyong (GD)

Park Bom

Im Yoona

Genre: lebih abstrak lagi. okesip.

A/N: gue sebenernya gaterlalu ngerti shipperannya 2NE1-Bigbang._.gue bikin ini gegara diminta hohoho~~ so, enjoy it~

“a-aku tidak takut! W-walau kau m-monster atau i-iblis sekalipun! A-aku… takkan takut!”

“benarkah? Bagaimana kalau aku akan melukaimu nanti?”

            “aku… aku percaya kau tidak akan melakukan itu. Pasti.”

“pagiii eonnnniiiiiiii!” lengan mungil gadis itu melingkar di leher Bom. Bom menyambutnya dengan senyuman tipis.

“pagi, Yoong!” balasnya. Yoona tertawa lebar dan berjalan disebelah eonninya itu.

“tumben eonni berangkat pagi sekali!” ucap Yoona kemudian lalu tersenyum lagi. Bom terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk.

“humm… aku masih ada beberapa tugas dari Kim seosangnim.” Karang Bom pada Yoona sambil tersenyum. Yoona mengangguk lalu membulatkan mulutnya. “dimana Dara?” tanya Bom kemudian.

“ah, Dara eonni bilang ia piket hari ini, jadi ia pergi lebih cepat.” Ucap Yoona. Bom menggangguk pelan.

Tak terasa, mereka kini akhirnya sampai di SMA ByungHee, tempat mereka bersekolah. Lingkungan sekolah masih sepi, hanya pembantu sekolah yang terlihat sedang membersihkan halaman sekolah. Yoona melirik jam tangannya sekilas.

“eonni, aku akan pergi ke toko roti ya. Dara eonni tadi memesan padaku.” Ujar Yoona sambil tersenyum. Bom mengangguk lalu tersenyum tipis.

“hng. Sampai jumpa di kelas ya. Hati-hati Yoong.” Ucap Bom lalu berlalu ke dalam gedung sekolah dengan agak terburu-buru. Yoona tak bergerak sedikitpun dari tempatnya dan tetap memandang punggung eonninya yang mulai tak terlihat lagi. Ia tersenyum menyeringai lalu mengibaskan rambutnya, hingga kedua tanduk berwarna hitam mungil diatas kepalanya terlihat jelas.

            “eonnilah yang seharusnya berhati-hati…..”

“yo!”

Kotak bekal yang dipegang Bom seketika terjatuh dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Ia menoleh ke belakangnya dan mendapati sosok GD sedang berdiri tegak sambil tersenyum tipis.

“ah… kau mengagetkanku saja…” ucap Bom dengan agak kesal. GD menaruh kedua tangannya kedalam saku celana lalu bersandar di dinding.

“memang itulah seorang monster kan?” GD tersenyum tipis. Matanya sekilas bercahaya merah, namun ia menutup kedua matanya, dan warna matanya kembali seperti semula. Bom memegang lengannya dengan raut wajah khawatir.

“gwenchana? Kelihatannya kau sering diluar kontrol akhir-akhir ini… mau beristirahat dulu?” nada cemas terdengar di suara Bom. GD tertawa kecil lalu mengacak rambut Bom pelan.

“sudahlah, ayo kita ke atap. Aku sudah lapar. Kau bawa makanannya kan?” tanya GD lalu berjalan menyusuri koridor yang masih sepi. Bom mengangguk pelan. “aku duluan ya.” Ucap GD singkat lalu seketika sosoknya menghilang dari hadapan Bom.

Bom tersenyum tipis. Tangan kanannya mengambil kotak bekal yang masih tergeletak diatas lantai tadi. 5 bulan mereka berkenalan, dan sudah 1 bulan ini GD mau memakan bekal buatannya. Padahal ia benci makanan manusia. Ia lebih suka menyantap daging hewan, yang dilarang keras oleh Bom. Awalnya ia keras kepala, dingin, kejam, berdarah dingin, monster yang masih liar. Tapi toh pada akhirnya ia luluh juga pada ketulusan Bom.

Dan itu membuat Bom senang. Yeah, ia mencintai GD. Walau ia monster sekalipun. Memang GD tak mencintainya, tapi ia tahu GD takkan melukainya. Apapun yang terjadi.

            “sebaiknya aku segera ke atap…” gumam Bom lalu melangkahkan kedua kakinya menyusuri koridor.

“ARGGHHHHH!!!!!” kedua tangan GD mencengkram erat kepalanya. Tanduk berwarna merah itu keluar lagi. Rasanya kepalanya seperti dipukul dengan benda tumpul berkali-kali. Ingin meledak saking sakitnya. Memang ini bukan yang pertama kalinya. Tapi bahkan seorang monster pun tak dapat menahan rasa sakit dari tanduk yang muncul disaat-saat tertentu.

            Lutut GD terhempas diatas lantai sekolahnya yang berwarna putih itu. Tenaganya sudah habis. Rasanya ia lemah, ingin jatuh. Semua tenaganya terkuras karena tanduk itu.

            “pft…. ternyata… ini efek sampingnya……” ucapnya diantara hembusan napasnya yang tak beraturan. Senyum tipis mengembang di wajahnya.

            “masih bisa tersenyum?”

            GD menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berdiri didepannya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada itu. Sorot mata gadis itu terlihat angkuh dan dingin. GD tersenyum sekali lagi.

            “bukankah kau harusnya memanggilku oppa atau yang semacam itu?” gadis itu memutar kedua bola matanya dengan kesal, sementara GD hanya tertawa melihat kelakuan gadis dihadapannya.

            “aku tidak sudi memanggilmu oppa. Apalagi karena kau dekat dengan manusia itu.” Jawab gadis tadi dengan kesal. GD mengernyitkan alisnya, tak mengerti maksud gadis itu.

            “Bom?” tanya GD disambut anggukkan tak niat dari gadis tadi.

            “siapa lagi? Kalian berdua selalu menempel seperti parasit.” Ucap gadis tadi sekenanya. GD berusaha bangkit setelah rasa sakitnya berangsur hilang dan menatap gadis itu.

            “kau malah jauh lebih dekat dengannya, kan?”tanya GD lagi sambil tersenyum miring. Gadis itu sekali lagi terlihat kesal.

            “oh ayolah! Aku melakukannya demi mendapatkan berlian sialan itu! Sebenarnya aku bisa saja membunuh dia dan merebut berlian itu secara paksa!” ujar gadis itu setengah berteriak.

            “tapi? Kau tidak tega?” tanya GD sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan kesal.

            “kita tidak boleh terburu-buru, tapi juga tidak boleh terlalu lambat! Ingat GD, mungkin saja nanti yang lainnya yang akan merebut berlian ini duluan! Ini ujian! Pasti banyak yang akan mengincar gadis itu! Untung saja kau mendapat partner sepertiku, tau!” jelas gadis itu dengan kesal.

            “dengar. Kita pasti akan memenangkan ujian ini, dan kau tidak perlu terlalu gusar akan keselamatan Bom ataupun ujian kali ini. Setelah semuanya berakhir, aku akan menghapus ingatannya, dan kita akan mendapatkan permata itu.” Kali ini nada suara GD terdengar lebih serius. Gadis tadi menundukkan kepalanya lalu menggigit bibr bawahnya pelan.

            “oppa…” ucapnya pelan. Kepalanya diangkat dan ia menatap GD yang tersenyum karena panggilan oppa itu. “tepati janjimu.”

            “gomawo. Makanannya enak.” GD menyodorkan kotak bekal kosong itu kearah Bom yang duduk disebelahnya. Bom tersenyum lalu meraih kotak bekal itu dan memberikan botol minum pada GD.

“biasanya kau akan menyisakan wortelnya.” Ucap Bom sambil tersenyum kecil. GD meneguk isi botol itu dalam sekali teguk lalu menoleh ke arah Bom.

“aku harus terbiasa memakan makanan manusia.” Ujar GD singkat sambil tertawa. Bom memukul lengan kanan GD pelan lalu tertawa kecil.

“ya! Kau ini….” Bom menggerutu kesal kearah GD yang tertawa lalu kemudian tersenyum hambar.

“kau tidak senang kan dengan fakta kalau aku bukan seorang manusia?” tanya GD sambil menatap kedua bola mata Bom dengan tajam. Bom  mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepalanya.

“aku… bukankah aku sudah bilang padamu? Walau kau seorang monster atau seorang iblis pun, bagiku kau tetaplah seorang Kwon Jiyong yang kukenal…” ucap Bom kemudian dan menatap kedua bola mata GD dengan yakin.

GD terhenyak melihat kemantapan gadis dihadapannya ini. Bom terlihat yakin akan jawabannya. Takada keraguan sedikitpun pada nada suaranya. Begitu pula dengan tatapannya. Terlihat bahwa ia sangat mempercayai GD, dan tak sedikitpun takut padanya. GD tersenyum hangat lalu merengkuh Bom dalam pelukannya.

            “gomawo…”

“dengar, Bom. Kamu harus menjaga ciuman pertamamu. Jangan lakukan itu selain dengan manusia.”

            “selain manusia? Apa maksud nenek?”

            “di dunia ini, bukan hanya manusia saja yang tinggal. Setan, hantu, bahkan monster… jangan pernah dekati monster, Bom.. mereka hanya akan membuatmu semakin lemah, hingga akhirnya hancur…”

            Hal terakhir yang diingat Bom setelah membuka matanya; senyuman GD yang hangat. Tapi sejauh matanya memandang atap gedung sekolahnya itu, sosok GD tak tampak disebelahnya. Entah kenapa atap sekolah sudah porak poranda, terbakar di beberapa bagian, pagar pembatas hancur, dan puing-puing berserakan dimana-mana. Bom memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“darah..” gumamnya pelan saat melihat tangannya berlumuran darah dari kepalanya. Bingung. Hanya itulah yang dirasakan Bom sekarang. Dimana GD?

“o-oppa!!! Bangunlah….. kumohon!!! GD oppa….. bangun!”

Bom menoleh ke belakangnya begitu mendengar suara seorang gadis menangis. Dan disanalah GD. Tergeletak diatas lantai dengan darah disekelilingnya, dan sosok seorang gadis berlutut dihadapannya, dengan tanduk berwarna hitam yang mungil. Sosoknya membelakangi Bom, tapi Bom kenal dengan sosok itu.

“Yoong……?”

Gadis itu menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Bom terhenyak begitu melihat dongsaengnya itu berada dihadapannya. Air mata mengalir dari kedua bola matanya yang berwarna merah terang. Pipinya mengeluarkan darah berwarna merah segar, sedangkan kedua tangannya berlumuran darah.

“k-kau…. m-monster juga…?” Tanya Bom dengan terkejut. Tapi Yoona tak menjawab, dan tetap mengguncang-guncangkan badan GD yang berlumuran darah. Pandangan Bom beralih ke arah badan GD yang tergeletak diatas lantai. Kedua kakinya dilangkahkan mendekati GD. Dihempaskannya lututnya di lantai disebelah GD.

“Jiyong-ah…” gumam Bom pelan sambil mengelus pipi GD yang terluka. Dingin. Pipinya sangat dingin seperti es.

Bibirnya pucat. Takkan lagi berbicara dengan dingin seperti dulu. Kedua bola matanya tertutup. Takkan lagi menatap Bom dengan tajam, hingga membuatnya meleleh. Kedua tangannya diam. Takkan lagi mengacak rambut Bom hingga berantakan. Kedua kakinya tak bergerak. Takkan lagi melompat dan terbang kesana kemari.

Tangan mungil Bom menggenggam erat tangan GD yang kaku dan dingin. Ah, ia sudah tahu hari ini pasti akan datang. Tapi ia takkan siap. Walau ia sudah berjanji takkan menangis pada GD, walau sudah berjanji akan jadi kuat pada GD, sekarang semuanya tinggal janji.

“j-jiyong-ah….” ucap Bom terbata-bata. Ia menepuk pipi GD pelan, berharap ia akan bangun. Tapi tidak akan terjadi. Kini air mata Bom mengalir deras. Badannya berguncang hebat, dan bibirnya bergetar, terus mengucapkan nama GD. Tatapan matanya kosong, hampa.

“pabo….”

Yoona dan Bom seketika mengangkat kepala mereka yang tertunduk, begitu mendengar suara yang mereka kenal. GD. Ia membuka kedua matanya dan tersenyum miring seperti biasanya.

“o-oppa….” gumam Yoona pelan. Suaranya bergetar karena terkejut. Tangan mungilnya meraih lengan GD yang masih tetap dingin. Sekali lagi ia menangis melihat GD yang sangat lemah dihadapannya.

“akhirnya kau memanggilku oppa juga, Yoong…” tangan dingin GD mengelus rambut Yoona perlahan. Lalu pandangannya beralih ke arah Bom yang masih menangis tanpa suara disebelahnya. “Bommie-ah….” gumamnya pelan.

“GD…..” kepala Bom ditundukkan begitu dalam, untuk menyembunyikan tangisannya. GD mengelus pipinya yang terkena darah dengan lembut.

“kau menangis lagi? Bukankah kau sudah berjanji takkan menangis lagi, Bom? Apa itu karena-“

“aku mencintaimu, GD.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s