Monster (Part 2 End)

GD terdiam begitu mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Bom. Begitu pula dengan Yoona. Wajah mereka berdua sangat terkejut. Tak menyangka Bom akan mengucapkan hal itu. Tapi tangan kanan GD meraih leher Bom lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Bom.

            “Bommie-ah..” kini kedua bibir mereka saling melekat, membuat air mata Bom makin deras dan mengalir di pipi GD. Ia dapat merasakan bibir GD yang dingin bagaikan es. Begitu GD melepaskan ciumannya, ia tersenyum kecil ke arah Bom.

            “halo, GD.”

            Sebuah suara terdengar dari belakang Bom. Sosok empat orang pemuda yang berpakaian aneh berdiri dibelakang mereka. GD mengangkat tangan kanannya lalu tersenyum miring.

            Seorang lelaki dengan rambut berwarna perak muncul dibelakang Yoona dan membantunya berdiri, sementara lelaki dengan rambut cepak merapikan puing-puing dan darah yang berceceran dengan sihirnya.

            Lelaki yang menyapa GD tadi mendekatinya lalu duduk disebelahnya, sambil menyembuhkan beberapa luka di tubuh GD, sementara GD hanya meringis kesakitan.

            “bagaimana? Apa ia bisa sembuh?” tanya lelaki berambut cepak tadi. Lelaki berambut biru langit yang sedang mengobati GD menggeleng.

            “kita harus minta bantuan yang lain. Kalau tidak segera, ia takkan selamat.” Ucap lelaki itu tenang.

            “berarti… kita akan kembali ke dunia monster?” sela Yoona kemudian. Luka di pipinya sudah menghilang berkat bantuan sihir pemuda berambut perak tadi.

            “tentu saja.” Jawab lelaki berambut biru itu singkat. Ia bangkit berdiri lalu memberi tanda pada yang lainnya.

            “Bommie-ah….” gumam GD dengan sisa-sisa tenaganya sambil berusaha mengelus pipi Bom, yang masih berlutut disebelahnya dengan air mata yang masih mengalir. “mianhae….” ucap GD lalu menutup kedua matanya. Takada lagi suara yang keluar dari bibirnya.

            “baiklah, sepertinya kita sudah harus pergi.” Lelaki berambut biru tadi menjetikkan jarinya, dan tiba-tiba saja tubuh GD sudah melayang dan terbungkus oleh sebuah bola bening. Sosok keempat lelaki tadi mulai terlihat akan menghilang, begitu pula dengan Yoona. Lalu Yoona membisikkan beberapa kata pada lelaki berambut biru yang langsung mengangguk.

            Lelaki berambut biru tadi menjentikkan jarinya sekali lagi ke arah Bom, lalu mengucapkan beberapa mantra. Seluruh tubuh Bom tiba-tiba terasa sangat lemas, hingga akhirnya ia jatuh tergeletak diatas lantai. Di detik terakhir ingatannya, yang ia ingat hanyalah permintaan maaf dari GD… permintaan maaf yang tulus dari seorang monster…

 

 A/N: Part2 singkat banget yak?._. wks sori-___-v

            

Monster (Part 1)

Cast:

Kwon Jiyong (GD)

Park Bom

Im Yoona

Genre: lebih abstrak lagi. okesip.

A/N: gue sebenernya gaterlalu ngerti shipperannya 2NE1-Bigbang._.gue bikin ini gegara diminta hohoho~~ so, enjoy it~

“a-aku tidak takut! W-walau kau m-monster atau i-iblis sekalipun! A-aku… takkan takut!”

“benarkah? Bagaimana kalau aku akan melukaimu nanti?”

            “aku… aku percaya kau tidak akan melakukan itu. Pasti.”

“pagiii eonnnniiiiiiii!” lengan mungil gadis itu melingkar di leher Bom. Bom menyambutnya dengan senyuman tipis.

“pagi, Yoong!” balasnya. Yoona tertawa lebar dan berjalan disebelah eonninya itu.

“tumben eonni berangkat pagi sekali!” ucap Yoona kemudian lalu tersenyum lagi. Bom terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk.

“humm… aku masih ada beberapa tugas dari Kim seosangnim.” Karang Bom pada Yoona sambil tersenyum. Yoona mengangguk lalu membulatkan mulutnya. “dimana Dara?” tanya Bom kemudian.

“ah, Dara eonni bilang ia piket hari ini, jadi ia pergi lebih cepat.” Ucap Yoona. Bom menggangguk pelan.

Tak terasa, mereka kini akhirnya sampai di SMA ByungHee, tempat mereka bersekolah. Lingkungan sekolah masih sepi, hanya pembantu sekolah yang terlihat sedang membersihkan halaman sekolah. Yoona melirik jam tangannya sekilas.

“eonni, aku akan pergi ke toko roti ya. Dara eonni tadi memesan padaku.” Ujar Yoona sambil tersenyum. Bom mengangguk lalu tersenyum tipis.

“hng. Sampai jumpa di kelas ya. Hati-hati Yoong.” Ucap Bom lalu berlalu ke dalam gedung sekolah dengan agak terburu-buru. Yoona tak bergerak sedikitpun dari tempatnya dan tetap memandang punggung eonninya yang mulai tak terlihat lagi. Ia tersenyum menyeringai lalu mengibaskan rambutnya, hingga kedua tanduk berwarna hitam mungil diatas kepalanya terlihat jelas.

            “eonnilah yang seharusnya berhati-hati…..”

“yo!”

Kotak bekal yang dipegang Bom seketika terjatuh dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Ia menoleh ke belakangnya dan mendapati sosok GD sedang berdiri tegak sambil tersenyum tipis.

“ah… kau mengagetkanku saja…” ucap Bom dengan agak kesal. GD menaruh kedua tangannya kedalam saku celana lalu bersandar di dinding.

“memang itulah seorang monster kan?” GD tersenyum tipis. Matanya sekilas bercahaya merah, namun ia menutup kedua matanya, dan warna matanya kembali seperti semula. Bom memegang lengannya dengan raut wajah khawatir.

“gwenchana? Kelihatannya kau sering diluar kontrol akhir-akhir ini… mau beristirahat dulu?” nada cemas terdengar di suara Bom. GD tertawa kecil lalu mengacak rambut Bom pelan.

“sudahlah, ayo kita ke atap. Aku sudah lapar. Kau bawa makanannya kan?” tanya GD lalu berjalan menyusuri koridor yang masih sepi. Bom mengangguk pelan. “aku duluan ya.” Ucap GD singkat lalu seketika sosoknya menghilang dari hadapan Bom.

Bom tersenyum tipis. Tangan kanannya mengambil kotak bekal yang masih tergeletak diatas lantai tadi. 5 bulan mereka berkenalan, dan sudah 1 bulan ini GD mau memakan bekal buatannya. Padahal ia benci makanan manusia. Ia lebih suka menyantap daging hewan, yang dilarang keras oleh Bom. Awalnya ia keras kepala, dingin, kejam, berdarah dingin, monster yang masih liar. Tapi toh pada akhirnya ia luluh juga pada ketulusan Bom.

Dan itu membuat Bom senang. Yeah, ia mencintai GD. Walau ia monster sekalipun. Memang GD tak mencintainya, tapi ia tahu GD takkan melukainya. Apapun yang terjadi.

            “sebaiknya aku segera ke atap…” gumam Bom lalu melangkahkan kedua kakinya menyusuri koridor.

“ARGGHHHHH!!!!!” kedua tangan GD mencengkram erat kepalanya. Tanduk berwarna merah itu keluar lagi. Rasanya kepalanya seperti dipukul dengan benda tumpul berkali-kali. Ingin meledak saking sakitnya. Memang ini bukan yang pertama kalinya. Tapi bahkan seorang monster pun tak dapat menahan rasa sakit dari tanduk yang muncul disaat-saat tertentu.

            Lutut GD terhempas diatas lantai sekolahnya yang berwarna putih itu. Tenaganya sudah habis. Rasanya ia lemah, ingin jatuh. Semua tenaganya terkuras karena tanduk itu.

            “pft…. ternyata… ini efek sampingnya……” ucapnya diantara hembusan napasnya yang tak beraturan. Senyum tipis mengembang di wajahnya.

            “masih bisa tersenyum?”

            GD menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berdiri didepannya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada itu. Sorot mata gadis itu terlihat angkuh dan dingin. GD tersenyum sekali lagi.

            “bukankah kau harusnya memanggilku oppa atau yang semacam itu?” gadis itu memutar kedua bola matanya dengan kesal, sementara GD hanya tertawa melihat kelakuan gadis dihadapannya.

            “aku tidak sudi memanggilmu oppa. Apalagi karena kau dekat dengan manusia itu.” Jawab gadis tadi dengan kesal. GD mengernyitkan alisnya, tak mengerti maksud gadis itu.

            “Bom?” tanya GD disambut anggukkan tak niat dari gadis tadi.

            “siapa lagi? Kalian berdua selalu menempel seperti parasit.” Ucap gadis tadi sekenanya. GD berusaha bangkit setelah rasa sakitnya berangsur hilang dan menatap gadis itu.

            “kau malah jauh lebih dekat dengannya, kan?”tanya GD lagi sambil tersenyum miring. Gadis itu sekali lagi terlihat kesal.

            “oh ayolah! Aku melakukannya demi mendapatkan berlian sialan itu! Sebenarnya aku bisa saja membunuh dia dan merebut berlian itu secara paksa!” ujar gadis itu setengah berteriak.

            “tapi? Kau tidak tega?” tanya GD sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan kesal.

            “kita tidak boleh terburu-buru, tapi juga tidak boleh terlalu lambat! Ingat GD, mungkin saja nanti yang lainnya yang akan merebut berlian ini duluan! Ini ujian! Pasti banyak yang akan mengincar gadis itu! Untung saja kau mendapat partner sepertiku, tau!” jelas gadis itu dengan kesal.

            “dengar. Kita pasti akan memenangkan ujian ini, dan kau tidak perlu terlalu gusar akan keselamatan Bom ataupun ujian kali ini. Setelah semuanya berakhir, aku akan menghapus ingatannya, dan kita akan mendapatkan permata itu.” Kali ini nada suara GD terdengar lebih serius. Gadis tadi menundukkan kepalanya lalu menggigit bibr bawahnya pelan.

            “oppa…” ucapnya pelan. Kepalanya diangkat dan ia menatap GD yang tersenyum karena panggilan oppa itu. “tepati janjimu.”

            “gomawo. Makanannya enak.” GD menyodorkan kotak bekal kosong itu kearah Bom yang duduk disebelahnya. Bom tersenyum lalu meraih kotak bekal itu dan memberikan botol minum pada GD.

“biasanya kau akan menyisakan wortelnya.” Ucap Bom sambil tersenyum kecil. GD meneguk isi botol itu dalam sekali teguk lalu menoleh ke arah Bom.

“aku harus terbiasa memakan makanan manusia.” Ujar GD singkat sambil tertawa. Bom memukul lengan kanan GD pelan lalu tertawa kecil.

“ya! Kau ini….” Bom menggerutu kesal kearah GD yang tertawa lalu kemudian tersenyum hambar.

“kau tidak senang kan dengan fakta kalau aku bukan seorang manusia?” tanya GD sambil menatap kedua bola mata Bom dengan tajam. Bom  mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepalanya.

“aku… bukankah aku sudah bilang padamu? Walau kau seorang monster atau seorang iblis pun, bagiku kau tetaplah seorang Kwon Jiyong yang kukenal…” ucap Bom kemudian dan menatap kedua bola mata GD dengan yakin.

GD terhenyak melihat kemantapan gadis dihadapannya ini. Bom terlihat yakin akan jawabannya. Takada keraguan sedikitpun pada nada suaranya. Begitu pula dengan tatapannya. Terlihat bahwa ia sangat mempercayai GD, dan tak sedikitpun takut padanya. GD tersenyum hangat lalu merengkuh Bom dalam pelukannya.

            “gomawo…”

“dengar, Bom. Kamu harus menjaga ciuman pertamamu. Jangan lakukan itu selain dengan manusia.”

            “selain manusia? Apa maksud nenek?”

            “di dunia ini, bukan hanya manusia saja yang tinggal. Setan, hantu, bahkan monster… jangan pernah dekati monster, Bom.. mereka hanya akan membuatmu semakin lemah, hingga akhirnya hancur…”

            Hal terakhir yang diingat Bom setelah membuka matanya; senyuman GD yang hangat. Tapi sejauh matanya memandang atap gedung sekolahnya itu, sosok GD tak tampak disebelahnya. Entah kenapa atap sekolah sudah porak poranda, terbakar di beberapa bagian, pagar pembatas hancur, dan puing-puing berserakan dimana-mana. Bom memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“darah..” gumamnya pelan saat melihat tangannya berlumuran darah dari kepalanya. Bingung. Hanya itulah yang dirasakan Bom sekarang. Dimana GD?

“o-oppa!!! Bangunlah….. kumohon!!! GD oppa….. bangun!”

Bom menoleh ke belakangnya begitu mendengar suara seorang gadis menangis. Dan disanalah GD. Tergeletak diatas lantai dengan darah disekelilingnya, dan sosok seorang gadis berlutut dihadapannya, dengan tanduk berwarna hitam yang mungil. Sosoknya membelakangi Bom, tapi Bom kenal dengan sosok itu.

“Yoong……?”

Gadis itu menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Bom terhenyak begitu melihat dongsaengnya itu berada dihadapannya. Air mata mengalir dari kedua bola matanya yang berwarna merah terang. Pipinya mengeluarkan darah berwarna merah segar, sedangkan kedua tangannya berlumuran darah.

“k-kau…. m-monster juga…?” Tanya Bom dengan terkejut. Tapi Yoona tak menjawab, dan tetap mengguncang-guncangkan badan GD yang berlumuran darah. Pandangan Bom beralih ke arah badan GD yang tergeletak diatas lantai. Kedua kakinya dilangkahkan mendekati GD. Dihempaskannya lututnya di lantai disebelah GD.

“Jiyong-ah…” gumam Bom pelan sambil mengelus pipi GD yang terluka. Dingin. Pipinya sangat dingin seperti es.

Bibirnya pucat. Takkan lagi berbicara dengan dingin seperti dulu. Kedua bola matanya tertutup. Takkan lagi menatap Bom dengan tajam, hingga membuatnya meleleh. Kedua tangannya diam. Takkan lagi mengacak rambut Bom hingga berantakan. Kedua kakinya tak bergerak. Takkan lagi melompat dan terbang kesana kemari.

Tangan mungil Bom menggenggam erat tangan GD yang kaku dan dingin. Ah, ia sudah tahu hari ini pasti akan datang. Tapi ia takkan siap. Walau ia sudah berjanji takkan menangis pada GD, walau sudah berjanji akan jadi kuat pada GD, sekarang semuanya tinggal janji.

“j-jiyong-ah….” ucap Bom terbata-bata. Ia menepuk pipi GD pelan, berharap ia akan bangun. Tapi tidak akan terjadi. Kini air mata Bom mengalir deras. Badannya berguncang hebat, dan bibirnya bergetar, terus mengucapkan nama GD. Tatapan matanya kosong, hampa.

“pabo….”

Yoona dan Bom seketika mengangkat kepala mereka yang tertunduk, begitu mendengar suara yang mereka kenal. GD. Ia membuka kedua matanya dan tersenyum miring seperti biasanya.

“o-oppa….” gumam Yoona pelan. Suaranya bergetar karena terkejut. Tangan mungilnya meraih lengan GD yang masih tetap dingin. Sekali lagi ia menangis melihat GD yang sangat lemah dihadapannya.

“akhirnya kau memanggilku oppa juga, Yoong…” tangan dingin GD mengelus rambut Yoona perlahan. Lalu pandangannya beralih ke arah Bom yang masih menangis tanpa suara disebelahnya. “Bommie-ah….” gumamnya pelan.

“GD…..” kepala Bom ditundukkan begitu dalam, untuk menyembunyikan tangisannya. GD mengelus pipinya yang terkena darah dengan lembut.

“kau menangis lagi? Bukankah kau sudah berjanji takkan menangis lagi, Bom? Apa itu karena-“

“aku mencintaimu, GD.”

Don’t Say Goodbye

 

Cast:

Lee Donghae

Jung Jessica

Category: Sad

Author: @JS_YoonaSNSD

Song: Don’t Say Goodbye – Davichi

A/N: usually, i made this ff because someone wants me to. Yeah… gue bukan HaeSica shipper sih. But sometimes, i ship them really hard. Jadi maaf kalau ada banyak typo, salah nulis, atau hal-hal yang gatepat. Terus bagian yang kata-bahasa inggris, itu lirik lagunya yak. Gue bikin ini Cuma sehari, tapi nguploadnya berminggu-minggu kemudian. Aww. Betewe maap kalau ceritanya kurang sedih. Okesip u_u

This Fanfic specially made for @JS_SNSDJessica, my Ice Princess eonni. Hope u will be happy after read thif FF, eonni! ;D

 

 

I saw your trembling lips for the first time

you try and you try but hesitate to say something

just like the lyrics from a song- sad predictions come true

            “sica-ah, bisa kita bertemu di cafe biasa?” suara Donghae terdengar agak gemetar diseberang sana. Senyum langsung mengembang di wajah Jessica. Buru-buru ia bangkit berdiri, tanpa memperdulikan Yoona yang sedang berbaring disebelahnya meringis kesakitan karena terlempar botol kuteks milik Jessica.

            “ne, Haeppa! Tunggu aku! Aku akan segera kesana!”

            “m-mwo….?”

            Dan kini disinilah Jessica, di sebuah cafe bernuansa natal yang tenang, tapi tetap membawa kegembiraan natal. Penampilannya tampak berbeda hari ini. Kenapa? Yup, hari ini Christmas Eve pertama yang dirayakannya dengan lelaki tampan di hadapannya, Lee Donghae. Donghae juga terlihat agak berbeda. Penampilannya jauh lebih resmi daripada biasanya. Yang berbeda hanya satu. Gelang mungil berbentuk ikan  pemberian Jessica tidak dikenakannya seperti biasanya.

            Dari luar cafe  terdengar tawa bahagia yang begitu menyenangkan. Tapi tidak dari sudut cafe ini, dimana Jessica dan Donghae duduk berhadapan. Hanya mereka berdua. Takada ekspresi senang terpancar di wajah mereka. Wajah Jessica yang terkejut tak percaya, dan wajah Donghae yang merasa bersalah.

            “mianhae, Sica…” hanya itu kata-kata yang diucapkan Donghae setelah ia berkata panjang lebar tentang alasan utamanya memutuskan hal itu. Tak ada lagi kata yang terlontar dari bibir Donghae. Sekarang ia hanya menunggu jawaban Jessica, yang terdiam tanpa ekspresi.

            “wae…?” gumam Jessica lirih. Tenggorokannya rasanya tercekat. Bukan, bukan karena udara yang dingin. Tapi karena Donghae. Lee Donghae. Namja chingu yang sangat dicintainya itu. Mengucapkan kata yang ia pernah berjanji, takkan mengucapkannya. Kata-kata yang langsung menyayat hati Jessica…

no, it can’t be- it’s not- it can’t be

you already left me, your heart has left me

even your body has left me as well

i don’t know how to hold onto you- someone please tell me how

            FLASHBACK ON

“Haeppa belum juga menghubungi eonni?” tanya Yoona sambil menyomot keripik kentang dari piring Jessica sambil duduk bersila diatas tempat tidurnya. Jessica yang duduk dibawah lantai, dengan handphone di tangan kanannya hanya mengangguk lemah.

            “hng… sudah 2 minggu ia tidak menghubungiku. Mengirim pesan pun tak pernah. Teukppa bilang mereka akan sibuk karena jadwal yang padat… tapi Haeppa sudah berjanji kalau ia akan mengirimkan pesan, sesibuk apapun dia…” jawab Jessica pelan. Raut wajahnya terlihat lemas tak bertenaga.

            “kalau menurut yang kudengar, ini biasanya masa-masa sebelum sang lelaki akan memutuskan kekasihnya. Mereka akan menjaga jarak, supaya dapat mempersiapkan hati.” Celetuk Yuri kemudian. Taeyeon langsung memberinya death glare.

            Jessica terhenyak mendengar perkataan Yuri. Putus? Ah tidak mungkin. Donghae sudah berjanji padanya. Tidak akan mengucapkan kata putus bahkan walah bercanda sekalipun. Lagipula apa alasan mereka untuk putus? Jadwal yang padat? Sudah 6 bulan mereka menjalani hubungan ini, karir mereka tak terganggu sedikitpun. Bosan? Ah, untuk yang satu itu mungkin saja.

            Jessica bukanlah seorang gadis yang periang seperti Yoona, polos seperti Seohyun, dewasa seperti Taeyeon, baik hati seperti Sooyoung, bertalenta seperti Hyoyeon, seksi seperti Yuri, imut seperti Sunny, ataupun manis seperti Tiffany. Jessica hanyalah seorang Jessica Jung. Dan ia mencintai dirinya sendiri.

            “ya! Kwon Yuri! HaeSica adalah pasangan yang paling serasi! Tidak mungkin mereka putus kan?” seruan Taeyeon seketika membuyarkan lamunan singkat Jessica. Jessica menoleh pada kid leadernya yang tersenyum mantap itu. Senyuman mengembang di wajahnya.

            “betul! Aku dan Haeppa saaaaangggaaaatt serasi! Tidak mungkin kami putus. Iya kan?”

please don’t say those words tonight

why did you leave me? I’m so hurt, my heart hurts- tears are rising

we can’t say goodbye yet- don’t open those lips any wider

don’t say goodbye

            “t-tapi… wae..? Haeppa s-sudah berjanji k-kan…?” tanya Jessica terbata-bata. Bibir bawahnya digigit pelan, dan ujung roknya dicengkramnya erat. Kepalanya ditundukkan untuk menyembunyikan kedua bola matanya yang mulai berair.

            “sica-ah…” gumam Donghae lemah. Jessica terlihat sangat rapuh didepannya. Seorang Ice Princess di hadapannya sedang meleleh perlahan-lahan, akan hancur karena kerapuhannya. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Pelukan hangat, ciuman mesra, elusan lembut di kepala itu takkan mempan lagi untuk menghibur Jessica. Takkan lagi.

            “oppa jahat! Oppa… oppa kan s-sudah berjanji…. oppa b-bilang… oppa menyayangiku… k-kita takkan berpisah kan…? op-oppa pasti bercanda…” Jessica mengangkat kepalanya lalu mencoba untuk tersenyum, ingin menyelesaikan candaan yang dibuat Donghae. Tapi raut wajah dan tatapan mata Donghae yang serius membuat senyumannya runtuh seketika. Ia tahu, Donghae serius dengan ucapannya. Tiap huruf yang keluar dari bibir Donghae sekarang bukanlah candaan semata. Ia serius, dan Jessica tahu, hatinya akan segera hancur berkeping-keping….

at your cold words, i sank down

as if the world crumbled down, tears fell

            “mianhae Sica-ah… tapi kurasa kita tidak cocok lagi. Ya, aku memang pernah berjanji untuk takkan berpisah, tapi, siapa yang tahu? Sica, dengar. Hati manusia gampang sekali berubah. Dari benci, jadi suka. Begitu pula sebaliknya. Aku tidak membencimu. Tapi tidak juga menyukaimu. Aku sekarang menganggapmu sebagai seorang rekan kerja… keluarga… dan seorang saeng. Tidak lebih, Sica. Tidak lagi.”

if this moment passes, if this moment is over

we will be separated forever

i love you, i love you to death-

don’t leave me

            “a-aku…”

            “ayo kita akhiri sampai disini, Sica.”

please don’t say those words tonight

why did you leave me? I’m so hurt, my heart hurts- tears are rising

we can’t say goodbye yet- don’t open those lips any wider

don’t say goodbye

            Donghae mengunci bibirnya rapat-rapat setelah mengucapkan 6 kata tadi. Jessica tak dapat menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Sekarang Jessica tak lebih dari hanya puing-puing yang berceceran dihadapan Lee Donghae. Rapuh, lemah, tidak seperti seorang Jessica Jung.

            Jessica hanya bisa tetap terus menangis, meluapkan seluruh kesedihannya, mengungkap kelemahannya dihadapan Donghae. Donghae hanya menatapnya nanar. Kedua mataya juga ikut memerah, tapi ia menahan tangisnya sebisa mungkin.

            Donghae berusaha menenangkannya, memanggil namanya dengan lembut seperti biasanya, menggenggam tangannya erat. Tapi gagal. Jessica tak ingin semua itu. Kedua tangannya menutup telinganya. Ia tak ingin mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Donghae lagi. Itu hanya akan membuatnya lebih hancur, lebih rapuh, lebih lemah.

            Dan disinilah seorang Jessica Jung, dihadapan Lee Donghae. Menangis meluapkan semua kesedihannya. Melepaskan julukan ice princess-nya dan membuatnya terlihat sangat lemah di hadapan Donghae. Sosok Jessica Jung yang satu lagi, sosok sebenarnya yang sangat lemah dan rapuh. Sosok yang sangat dibencinya.

i don’t know what separation is- i’m just upset

i have so many stories, so many memories-

my heart is ripping

we can’t say goodbye yet- don’t open those lips any wider

            “aku pergi dulu, Sica. Selamat tinggal.” gumam Donghae kemudian setelah menjawab telepon dari manajernya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Jessica mengangkat kepalanya. Hanya punggung Donghae yang terlihat. Donghae yang meninggalkannya.

            Dan kini, hanya ia sendiri, duduk di tempat itu dengan tatapan kosong. Ia lelah. Sangat lelah. Ada bagian dari sudut hatinya yang telah hancur menjadi serpihan-serpihan tak berarti.

            Semua pengharapannya pada Donghae tak berarti lagi. Hati lelaki itu bukan lagi miliknya. Ada orang lain yang memilikinya. Jessica tahu itu menyakitkan. Tapi ia tidak ingin Donghae mengucapkan kata itu. Kata perpisahan….

don’t say goodbye

don’t say goodbye

 

A/N: hai._.)/ gimana Ffnya? Sedihkah? Atau abstrak? Haha-___- guekan newbie, jadi Ffnya gabisa keren pake banget pake z-___- udah yak, abal banget sumpah nih FF banyakan Author Note nya daripada ffnya-_-